Setengah Enam Senja

Kala itu di suatu sore yang ramah, di sebuah mall yang tak begitu ramai. Senja bermuara pada ujung barat semesta, jingga memaksa mengintip seorang lelaki pada celah-celah bangunan. Lelaki itu sedang termenung pada segelas kopi dan asap yang menari di atas asbak. Dengan segala kegelisahannya ia menyantap sebuah buku, berharap ter-distraksi akalnya. Salah satu buku Pram ia santap, sembari sesekali meneguk kopi yang terjaga di depannya. Anehnya pria itu masih sedikit gelisah, pria itu memang sedikit gusar dengan rasa gugupnya. Yang terkadang membuat mual perutnya, walau tak separah pertama kali akan jumpa wanitanya.
Masih dengan segala kegelisahannya, ia paksakan menyantap buku. Hanya saja akalnya berputar tak kenal arah. Wanitanya tak kunjung datang juga, agar segera selesai perihal ke-mualannya.
Sesekali ia mengobrol dengan pemilik gerai kopi di area makan mall tersebut, tersenyum pada nenek yang sedang menggandeng cucunya. Dengan harapan lekas terbiasa rasa gugupnya.
Tepat setengah enam senja, wanitanya tiba. Dadanya meledak, lavanya pijar di kepalanya. Di aturnya pelan-pelan napasnya, kontraksi pada perut dapat dikendalikannya. Syukurlah, ia tak jadi meledak kala itu, sesekali disruput kopi yang mulai dingin sebagai penenang rasa gugupnya. Hingga terjadi suatu adegan singkat saling pandang, dada pria itu bergemuruh, petir menyambar akalnya. Hingga pecah pada suatu kata.
 
"Sudah lama kamu sampai?" katanya 
"Iya, butuh waktu lama sebenarnya untuk menormalkan oksigen yang masuk pada paru-paruku, detak jantungku, serta padam senjaku yang tenggelam di matamu, sialan memang" kataku dalam hati.
 "Lumayan, kamu sudah makan?" kataku. Untung saja pria itu tak terbata-bata saat berbicara, sehingga wanitanya tak menyadarinya.
"Sudah nih, tapi nanti cari cemilan dulu ya" katanya sembari memandang ponselnya
"Iya, ya udah sekalian sholat magrib dulu" kataku lirih sembari mengatur napas.
 
Lepas itu sang pria ber-andai, jika saja aku bisa menjadi ponselmu yang tak lepas-lepasnya kau pandang. Menjadi ponsel berlayar kuning pun tak masalah, yang tak membuatmu sakit mata, mengomel karena sinyal susah, karena baterai mudah habis, kaca pelindung layar pecah, kuota yang mahal, aku ingin membahagiakanmu dengan segala kesederhanaanku. Hahahaa ber-andai memang selalu menyenangkan.
 
"Yuk" ajakku beranjak
"Ayuk" katanya sembari memalingkan wajah dari ponselnya
 
Dengan beberapa obrolan kecil, kami beranjak melewati lorong-lorong mall yang ramai. Hal yang menyenangkan memang berdiri di sampingmu, tidak memimpinmu pun mengikutimu. Sebagai teman perjalanan, melihat guratan senyum pada bibirmu, mencium aroma parfummu, benar saja senja telah terbenam pada matamu.
Jalan kita memang saat itu sedikit berjauhan, tapi aku percaya dan semoga saja. Kelak hati kita akan bergandengan, betemu pada muara yang sama. Seperti kata Pram pada film yang akan kita tonton " Kita akan belajar dan hidup pada Bumi Manusia dan segala persoalannya".

Komentar

Postingan Populer