Duka Petani

Namaku Pardi, besar dari keluarga petani
Sawah bapakku luas, seluas harapannya
Panennya banyak, seperti do'anya
Dewi Sri kerap ngeteh di rumahku
Berkunjung membawa rokok samsu untuk ayahku
Berterima kasih, sebab padinya dipupuk dengan cinta
Ia membantu ibu menanak nasi, mengengok lumbung padi, sesekali ke sawah dengan kami.
Namun, itu sudah usang
Cerita sebelum para tiran datang
Dengan sopir kekuasaan berlaku sewenang-wenang
Sawah kami jadi tempat bermain beko
Padi kami menangis terinjak-injak
Petani gusar, mereka melawan
Namun apa daya, musuh lengkap dengan seragam dan senjata
Yang semakin melawan, harus siap untuk dipenjara

Semakin hari semakin menjadi
Pohon kelapa kami ditebang, diganti tiang pancang bangunan
Semen disebar laksana pupuk
Bukan itu saja, rumah-rumah kami mulai dihancurkan
Para tiran semakin otoriter
Mengusir kami dari rumah sendiri
Perlawanan demi perlawanan kami lakukan
Makin hari makin banyak pula yang dipenjara
Bagaimana bisa seorang yang diganggu di rumahnya malah jadi tersangka?

"Pembangunan tai anjing!!" Umpat salah seorang petani
"Bagaimana kami menghidupi cucu dan anak kami setelah ini" Pecah tangis dari salah satu istri petani

Sekarang sawahku yang dulu, menjadi tempat berkumpulnya mereka yang selalu membicarakan Uang,Uang dan Uang
Sampai melupakan para petani apakah masih ada peluang untuk melanjutkan kehidupan
Kekuasaan memang lebih kuat dari kemanusiaan bagi para tiran
Sekarang, paku, mur, besi adalah nasi yang kami tanak sepenuh hati, dengan air mata kami.

Beginilah keadaan petani di semesta kami
Semoga tidak di semestamu

Pardi, Neptune MMXIX

Komentar

  1. Sip sii tpi bahasa ne rodok enek seng kurang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah merespons. Akan terus diperbaiki cara penulisannya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer