Gibran

            Hai, namaku Gibran, aku sama sekali bukan keturunan pemimpin negara. Aku hanya pria perantau suram yang kerjaannya males - malesan. Bangunku pun selalu siang, aku selalu bangun pukul 8 pagi. Dan hal yang selalu ku lakukan setiap bangun ialah matikan alarm dan tidur lagi. Dan akan benar - benar bangun biasanya pukul 9 pagi, itu pun bisa lebih cepat bangun kalo lagi mules. Kau tau alarm terbaik di dunia ini? Itu adalah rasa mules tiba -tiba saat pagi hari, eh dan juga kekasihmu yang bawel banguninmu setiap pagi, ini berlaku untuk yang punya aja, aku si tidak hahahaa. Selepas membuka mata biasanya aku ga langsung bangun, tapi cek ponsel dulu, barangkali ada notifikasi dari kamu, barangkalikan. Sehabis itu pasti langsung mandi, dan berangkat ngisi absen di kantor. Jam masuk kerjaku pukul 9, tapi yang namanya Gibran tepat waktu adalah mitos, aku selalu datang pukul 10. Dan selalu begitu setiap hari kerja.
 
            Tapi yang ingin kuceritakan bukan tentang keseharianku kerja di kantor atau kegiatanku sehari - hari. Melainkan tentang diriku yang ditakdirkan menjadi manusia pertama yang tinggal di rahim ibuku atau bisa di sebut anak sulung. Kau tau kan anak sulung? Barap kalo bahasa jawa atau anak tertua. Menjadi anak tertua itu ada menyenangkannya pun menyebalkannya, tapi terkadang sesuatu yang menyebalkan harus kita ekspersikan dengan semenyenangkan mungkin, karena salah satu tuntutan menjadi sulung itu harus terlihat kuat apapun yang terjadi, sebab yang akan dicontoh oleh adik kita adalah tentang apa saja yang kita lakukan. Sadar ga si, sesampah - sampahnya seorang kakak, secara alami akan tetap jadi kebanggaan adiknya ketika kecil, mungkin ketika adiknya sudah dewasa akan berubah. Setidaknya apapun yang kita lakuin, yang kita suka, adik kita pasti akan ikut - ikutan biasanya. Dan ini salah satu beban menjadi sulung, harus banyak hal baik yang kita contohkan ke adik kita, alesan kenapa terkadang kita terlihat keras terhadap adik kita dan jarang terbuka saat mengalami kegagalan.

            Tapi, aku ingin memulai ini dengan hal - hal apa saja yang menyenangkan menjadi anak tertua. Aku pernah menjadi satu - satunya anak yang paling disayang dikeluarga. Kenapa aku bilang gitu, ya karena dulu aku satu - satu anak orang tuaku sebelum adikku lahir. Jadi seluruh kasih sayang orang tuaku benar - benar ku dapetin. Bukan berarti setelah adikku lahir aku ga disayang lagi, tapi aku jadi ngerasa kasih sayangnya ga seutuh yang dulu pernah ku dapetin. Tuh kan, tadi katanya mau cerita yang menyenangkan, tapi ujung - ujungnya malah sambad. Eh tapi sambad itu menyenangkan loh dan jadi sulung itu memang penuh dengan persambadtan duniawi hanya saja ga pernah diungkapin aja.

            Balik lagi ke sulung, menjadi sulung itu selalu terlihat keren di mata adik kita terutama adikku. Apapun yang ku suka, yang ku lakuin, sekalipun itu buruk, bahkan jadi omelan orang tua, adikku pasti akan tetap berpikir kalo itu keren. Tapi masalahnya juga begitu, aku selalu merasa terbebani menjadi anak tertua, aku jadi tidak bisa terlalu terbuka untuk melakukan segala hal, sebab ada ketakutan jika hal yang ku lakukan kurang baik akan dicontoh adikku suatu hari nanti. Dulu aku selalu merasa dituntut untuk menjadi manusia yang tidak pernah gagal, sekalinya aku mendapat nilai jelek di sekolah, pulang kemaleman, berantem atau apapun yang tidak baik, itu akan jadi pemantik yang dapat membakar emosi kedua orang tuaku. Sebab menjadi anak tertua harus selalu memberi contoh yang baik untuk adiknya. 

            Kau tau, sebenarnya yang ku lakukan dulu, kenakalanku dulu adalah caraku agar aku lebih dapat banyak perhatian dari orang tua ku. Terkadang aku berpikir, ketika adikku lahir yang jadi lebih diperhatikan adalah adikku, mungkin mereka menganggap aku sudah waktunya untuk lebih bersikap mandiri. Padahal sebenarnya aku hanya si manja yang pura - pura keliatan mandiri. Ya demi agar suatu hari nanti adikku dapat mencontoh sifat mandiriku. Tapi pura - pura kuat itu melelahkan untuk diriku yang semuda itu, jadi pelarian agar lebih diperhatikan ya menjadi anak nakal. Percayalah dulu aku suka sekali dimarahi, hampir setiap hari malah, ya cuma demi agar lebih diperhatikan aja dengan cara terlihat kuat. Nakal itu kuat loh menurutku, nakal itu ngelatih kita untuk siap ngehadepin banyak hal. Tapi ini nakal loh ya bukan jahat hahahaa.

            Itu ceritaku sewaktu aku masih remaja, sekarang umurku sudah 23 tahun. Dan menjadi sulung jadi lebih terasa menyebalkan sekarang. Kau tau, adikku sekarang sudah ga nge-fans lagi denganku semenjak dia sudah remaja. Dan sekarang pula orang tuaku jadi tak pernah marah sama sekali denganku, mungkin bagus menurutmu? Menurutku tidak sama sekali. Orang tuaku terlalu percaya kalau aku dapat menentukan pilihanku dengan baik. Kau tau, aku sangat rindu dimarahi, tapi rindu itu tak pernah terobati. Orang tuaku tak pernah melarang aku melakukan apapun, asalkan itu tak merugikan orang lain. Baik si memang, tapi mereka terlalu percaya bahwa aku tidak akan melakukan kesalahan. Justru itu menjadi beban untukku, ketika aku gagal, aku hancur, aku salah, aku lebih memilih diam. Karena aku takut, aku akan mengahncurkan ekspetasi orang tuaku, walaupun jika cerita pun mereka akan mendengarkan. Tapi begitulah menjadi anak sulung, selalu ada dinding untuk tak terlihat lemah oleh siapapun. Walaupun dinding itu bukanlah ciptaan orang lain, melainkan diciptakan diri sendiri dan untuk diri sendiri. Aku tak pernah mau terlihat lemah oleh adikku, memberi kecemasan untuk orang tua ku. Sebab menjadi sulung itu adalah salah satu pondasi utama dalam keluarga, jadi apapun yang terjadi harus terlihat kuat. Sesakit apapun, segagal apapun, sehancur apapun, di depan orang tua pun adikku, senyum tawaku tak pernah berubah, padahal di dalam hatiku "Mbrodol sak mbrodol - mbrodole". Aku lebih sering bengong ketika sendiri, merenungkan segala kegagalan, segala hal pelik, lalu mulai menguatkan diri sendiri hingga mendapatkan kekuatan dan bangkit lagi. Jadi anak tertua itu harus terbiasa berdikari, makanya kebanyakan anak tertua adalah orang yang keras kepala. Sebab kesehariannya selalu memaksa dia untuk tak bergantung pada siapapun.

            Di usiaku yang sekarang, kadang aku rindu dimarahin, rindu diarahin dalam mengambil keputusan. Orang tuaku benar - benar sudah sangat percaya bahwa aku tau keputusan yang baik untukku itu apa. Tapi ya sesekali rindu kan boleh. Ya, aku memang sering mengambil banyak keputusan, banyak hal yang telah ku lewatin, dari yang gagal, yang kelaparan di tanah rantau, kehabisan uang sewaktu masih belum bekerja dan bekerja serabutan. Orang tuaku tak pernah tau itu, yang mereka tau aku selalu baik - baik saja, sebab aku tak mau menceritakan itu, anak sulung loh masak lemah. Lagi - lagi dinding itu menghalangi kebenaran yang sebenarnya. 

            Tuntutan jadi anak sulung itu harus berhasil tanpa bergantung dengan siapapun dan menyusahkan siapapun, ya itu memang tuntutan dari diri sendiri si sebenarnya, terutama diriku. Aku tak peduli seberapa banyakpun aku gagal, aku jatuh, aku harus siap bangkit. Ya tujuannya kembali ke awal lagi, untuk memberi contoh ke adikku dan tetap mengkokohkan pondasi keluarga. Ya karna ku tau, kelak yang menggantikan ayah sebagai tulang punggung itu aku. Hal paling merepotkan itu ketika kita merasa bertanggung jawab pada suatu hal, tapi di sisi lain kita jadi menemukan tujuan.

            Hal yang sekarang suka membuat aku resah itu, ketika adikku nakal atau melakukan kesalahan, ibuku selalu meneleponku agar aku menasihati adikku. Padahal orang yang paling ingin dinasihati adalah aku. Tapi ya kembali lagi karena aku si sulung aku harus menasihati adikku dengan cara sedewasa mungkin, dan itu menyebalkan. Padahal aku ingin dinasihati juga, ingin dimarahi juga, tapi aku tak tau cara mengekspresikannya seperti apa.

            Dan yang sekarang ku lakukan adalah bekerja sebaik mungkin, tetap terlihat kuat, tetap menguatkan keluarga, entah bagaimanapun keadaan yang terjadi, aku tak mau membuat cemas siapapun.

            Dan untukmu yang sulung sepertiku, aku tau kamu pasti lebih kuat dariku. Akan banyak hal pelik di depanmu suatu hari nanti, tentang kegagalan, kehancuran, hal paling sedih sekalipun. Kamu pasti akan kuat melewati itu. Pesanku, sesekali bergantung pada seseorang pun tak masalah, apa yang ada dalam hati dan pikiranmu pun perlu dikeluarkan. Bergantung bukan berarti lemah kok, aku do'akan buatmu yang belum menemukan, agar Tuhan lekas mempertemukan dirimu dengan seseorang yang dapat kau jadikan tempat untuk berbagi. Amin. Tetap semangat, semoga tetap menjadi oak yang tak pernah tumbang dihempas badai - badai permasalahan.

            Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, kecup jauh, Gibran.
           

Komentar

Postingan Populer