TEMANKU
Halo, aku ingin bercerita tentang teman dekatku, yang baru ku kenal 1 tahun belakang ini. Betapa banyak hal yang bisa ku pelajari selama mengenalnya.
Awal ku mengenalnya, harapanku begitu tinggi, banyak hal yang sudah ku rencanakan. Hari pertama ku mengenalnya, betapa dia langsung memberiku pelajaran tentang sabar, hujan lebat, terjebak di jalanan yang menggenang, listrik mati, dan tak bisa pulang. Bagai hidup di pengasingan dengan keadaan ramai namun sendiri. Melihat daratan menggenang, mobil dan motor berenang lepas terbawa arus dan lenyap. Rumah yang seharusnya hangat, menjadi gelap, kotor dan berlumpur. Tukang bakso menangis, tempat dia mengais poranda tersapu air. Beberapa orang mengutuk Tuhan, beberapa orang berserah dan sabar, semoga aku tetap menjadi bagian yang sabar. Bukankah hebat, untuk sebuah bagian awal, kita haus belajar untuk bersabar.
Beberapa waktu kemudian, langit kerap menangis, kota - kota terendam, bukankah sial bagi tukang kopi keliling? Penghasilan berkurang, anak istri bisa jadi menahan lapar. Bukankah ini juga sebab rakusnya manusia? Pohon kalah subur dari pada beton, tanah - tanah dibangun rumah, hingga hujan tak menemukan rumah.
Selepas itu temanku mengenalkanku tentang ikhlas, wabah yang awalnya disepelekan, merenggut kehidupan pun penghidupan. Nyawa - nyawa melayang, pekerjaan hilang. Betapa aku harus belajar untuk ikhlas, pekerjaan hilang, mimpi harus ditunda. Hingga sementara aku menyerah pada perantauan.
Temanku membawaku pulang, bertemu Ibu mungkin sedikit meredakan pilu. Tak berapa lama, aku harus bertemu dengan sebuah kehilangan lagi, setelah pekerjaan, aku harus kehilangan bagian penting dari hidup ku. Mbah Ibu pulang. Mbah Ibu dipanggil Tuhan, betapa hancur aku saat itu, bagian penting dari hidupku harus direnggut lagi. Mbah sakit sudah lama, mungkin ini yang terbaik, dan mbah sudah semestinya pulang. Betapa aku harus belajar untuk ikhlas.
Aku punya satu kekuatan, salah satunya yang dapat menguatkanku selain Ibu, dia adalah wanita yang ku cintainya. Tapi nyatanya semesta berkata lain, wanitaku sudah menentukan pilihannya, dan itu bukan aku. Harus bertemu dengan kehilangan lagi, betapa bertubi - bertubi, harus kehilangan pekerjaan, keluarga, dan cinta pada waktu berdekatan. Semua harus ku tanggung sendiri. Hingga temanku menemukanku lagi dengan teman - teman lamaku, mereka "Joh Mania", hari - hariku banyak ku lewati dengan mereka, luka semakin lama semakin mereda.
Betapa temanku banyak mengajariku untuk sabar, ikhlas dan merenung. Tentang merelakan yang semestinya pergi, tentang mengikhlaskan yang semestinya tak kau miliki, pun tentang pula menemukan arti pada diri sendiri, mengenal diri sendiri sendiri, betapa sudah sekian lama diriku begitu asing pada diriku sendiri.
Dari temanku aku bejalar, hidupku terlalu membara seperti api, hingga akhirnya membakar diriku sendiri. Aku lupa untuk sesekali menjadi air, tenang dan merenung.
Temanku bernama 2020, tak lama setelah tulisan ini diunggah ia akan segera pergi. Terima kasih sebab pernah hadir, terima kasih untuk sebuah makna. Aku mencintaimu.
Semoga 2021 banyak hal baik yang lahir, dan lebih baik lagi untuk menyikapi segala halnya. Selamat Tinggal 2020.
Komentar
Posting Komentar