Senandika

 Hari menuju pagi, kota berangsur istirahat setelah seharian lelah dengan ribuan ambisi. Tapi tak semua beristirahat, kupu-kupu mengepakkan sayapnya, dengan penuh harap kepompong di rumah esok dapat makan dengan layak, beberapa kelelawar juga berkeliaran, mencari kunang-kunang dengan kerlap-kerlip dan irama yang berguncang. Si kelelawar minum setenggak sofi membuatnya terbang semakin tinggi. 

Pada kota yang menuju sepi, keriuhan redam dalam sepi;dalam dekap malam. Ku sadari, mataku ialah bintang menuju padam, pendar perlahan meredup menuju katup, tapi lain halnya dengan pikiranku, ia tak pernah senja. Menjadi pagi dengan penuh paksa. Bagaimana tidak, saat mata sudah malam ia tetap menjadi pagi, memaksa diri untuk tak pernah menepi. 

"Aku lelah, tetapi aku tak bisa berhenti" Ujar pikiran suatu waktu. Ia kerap memaksakan diri. Pundaknya penuh dengan darah, sang hati kadang iba melihatnya, tetapi ia begitu keras kepala, tak mau berhenti untuk sedikit menepi. 

Hingga akhirnya sang hati dengan sepenuh hati memeluknya hati-hati, "ada aku, berbagilah, aku adalah kamu juga, pulanglah padaku, maka aku akan pulang kepadamu" Bisiknya lirih lalu hujan turun di matanya. Si pikiran berbalas memeluknya "terima kasih" dengan hujan yang lebih deras "aku pulang". Akhirnya pagi terbenam menjadi malam, dengan purnama sebagai teman tidurnya. 

Komentar

Postingan Populer